Setelah XBB Kini Muncul Varian Omicron XBC, Seperti Apa Bahayanya?


Omicron XBC muncul sebagai rekombinasi dari varian Delta dan subvarian Omicron. Seperti apa gejala dan bahayanya, simak ulasan berikut.

Hingga 25 Oktober 2022, Kementerian Kesehatan RI secara resmi mengumumkan adanya 4 kasus Covid-19 subvarian Omicron XBB yang telah masuk ke Indonesia. Subvarian XBB sebelumnya telah dilaporkan menyebabkan lonjakan kasus konfirmasi positif di Singapura, sehingga mempengaruhi kebutuhan perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit.

Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan RI, dr. Mohammad Syahril, semua pasien yang terkonfirmasi positif Omicron XBB memiliki gejala ringan seperti batuk dan pilek. Adapun penularannya berasal dari transmisi lokal dan transmisi luar negeri, sehingga Kementerian Kesehatan melakukan upaya antisipatif dengan tracing dan testing terhadap kontak erat keempat orang yang terkonfirmasi positif tersebut.

Omicron XBB dan gejalanya

ilustrasi omicron
Sumber gambar

Setelah sempat bernapas lega dan banyak aktivitas di luar rumah kembali dibebaskan, kini dunia dibuat kembali resah dengan hadirnya subvarian Omicron XBB. Subvarian XBB adalah rekombinan dari varian sebelumnya, yaitu BA.2.75 dan BJ.1. Meskipun disebutkan baha subvarian XBB bergejala ringan, namun penelitian membuktikan bahwa subvarian ini sangat menular sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkan gelombang baru dalam beberapa bulan mendatang.

Sebelumnya, WHO memang telah menetapkan varian Omicron sebagai varian yang menjadi perhatian (VOC), karena varian ini menular lebih cepat dari varian sebelumnya. Seperti jenis virus lainnya. Covid-19 bermutasi dan terus berevolusi. Varian XBB memiliki garis keturunan Omicron yang secara ilmiah disebut BA.2.10. Diyakini bahwa varian XBB memiliki keunggulan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan BA.2.75 dan sifat penghindaran kekebalan yang kuat yang memungkinkan melebihi kekebalan alami tubuh.

Data penelitian menunjukkan bahwa subvarian XBB memiliki lebih banyak perubahan DNA daripada subvarian Omicron sebelumnya. Perubahan utama terlihat pada domain pengikatan reseptor yang merupakan permukaan luar spike protein.

Gejala subvarian Omicron XBB mirip seperti varian Omicron sebelumnya. Adapun gejala subvarian Omicron XBB adalah sebagai berikut:

  • Sakit tenggorokan
  • Hidung tersumbat
  • Sesak napas
  • Kebingungan
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Nyeri tubuh
  • Batuk

Beberapa pasien juga melaporkan adanya gejala lain seperti mual, muntah dan diare.

Meskipun terlihat bahwa gejala Omicron XBB cukup mirip dengan gejala flu biasa, namun Anda tetap perlu waspada dan melakukan perawatan sedini mungkin. Beberapa kasus yang dilaporkan memiliki gejala yang tidak terlalu parah, tetapi orang dengan kekebalan yang kurang, menderita penyakit penyerta, atau berusia lanjut, sangat mungkin menunjukkan gejala yang parah dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Omicron XBC, apakah lebih parah dari subvarian XBB?

ilustrasi tes covid
Sumber gambar

Setelah subvarian XBB, dilaporkan bahwa subvarian XBC juga berisiko masuk ke Indonesia menyusul varian sebelumnya. Dikatakan bahwa saat ini subvarian XBC telah terdeteksi di Filipina yang letak geografisnya dekat dengan Indonesia.

Subvarian XBC merupakan rekombinan dari varian Delta (B.1.617.2) dan subvarian Omicron BA.2. Apa yang dimaksud dengan rekombinan? Apakah artinya subvarian ini lebih berbahaya?

Virus rekombinan adalah virus yang dihasilkan dari penggabungan dan modifikasi tertentu. Secara sederhana, dapat digambarkan bahwa virus rekombinan dihasilkan dari penyisipan gen yang menyebabkan gangguan spesifik gen yang tidak diperlukan. Gangguan gen ini memungkinkan hilangnya kemampuan atau fungsi penting dalam kultur jaringan. Karena merupakan virus rekombinan, tidak diketahui dengan jelas apakah virus ini lebih berbahaya atau tidak dibandingkan subvarian sebelumnya.

Gejala subvarian Omicron XBC apa saja?

Untuk saat ini, disebutkan bahwa gejala Omicron XBC hampir sama dengan subvarian lainnya. Gejala yang dialami seperti berikut:

  • Demam
  • Batuk
  • Lemas
  • Sesak napas
  • Sakit kepala
  • Pilek
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit tenggorokan

Pada beberapa orang gejala lain yang dialami adalah anosmia dan ageusia, yang merupakan gejala khas varian Delta.

Seperti apakah anosmia akibat Covid-19?

Anosmia adalah gejala yang dilaporkan muncul pada subvarian Alpha dan Delta. Anosmia adalah hilangnya sebagian atau seluruh indera penciuman, yang bersifat permanen bila dikaitkan dengan Covid-19. Kondisi ini muncul akibat infeksi Covid-19 di mana lapisan hidung mengalami iritasi. Anosmia juga terkadang menyebabkan Anda tidak dapat merasakan makanan sepenuhnya, dan mungkin kehilangan selera makan.

Anosmia yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 akan segera membaik ketika Anda sembuh. Seandainya pun gejalanya masih ada ketika hasil RT-PCR dinyatakan negatif, penciuman Anda akan perlahan kembali.

Anosmia dapat diatasi dengan mendapatkan pengobatan dekongestan, antihistamin, atau spray hidung. Selain itu Anda juga bisa mencoba beberapa hal berikut:

Melakukan latihan penciuman

Untuk mengembalikan indera penciuman seperti semula, maka Anda membutuhkan latihan penciuman. Anda bisa memulai dengan membau beberapa bahan seperti kopi bubuk, bunga mawar, jeruk, minyak kayu putih, vanilla, cengkeh atau daun mint. Lakukan latihan penciuman masing-masing selama 20 detik untuk setiap benda.

Minyak jarak

Dr Sandra El Hajj adalah seorang dokter naturopati yang merekomendasikan minyak jarak untuk mengobati anosmia. Secara alami, minyak jarak telah digunakan untuk mengembalikan kemampuan indera penciuman. Kandungan asam risinoleat di dalam minyak jarak dapat membantu melawan infeksi, mengurangi pembengkakan dan peradangan saluran hidung yang disebabkan oleh pilek atau alergi.

Untuk mendapatkan perawatan ini, Anda bisa memanaskan minyak jarak dan membiarkannya sampai suam-suam kuku kemudian meneteskan minyak tersebut di kedua lubang hidung, dua kali sehari.

Jahe

Jahe memiliki aroma khas yang menyengat yang bisa digunakan dalam latihan penciuman. Jahe dapat diminum maupun dibau. Secara alami, minum seduhan jahe dapat meredakan peradangan pada saluran pernapasan hidung, mengurangi pembentukan lendir berlebih yang menyebabkan hilangnya penciuman.

Irigasi saline

Kehilangan indera penciuman biasanya terjadi ketika hidung tersumbat yang bisa Anda atasi dengan mencuci hidung dengan larutan saline. Larutan ini akan mengeluarkan kelebihan lendir dari rongga hidung.

Seperti apakah ageusia terkait Covid-19?

Ageusia adalah hilangnya indera perasa, di mana Anda tidak dapat merasakan rasa makanan, manis, asin, asam atau pahit. Ageusia seringkali mempengaruhi orang dari segala usia, khususnya ageusia terkait Covid-19. Ageusia tidak berbahaya dan tidak mengancam jiwa, sehingga ketika infeksinya berhasil disembuhkan maka perlahan indera perasa Anda akan kembali.

Membersihkan lidah dengan tongue scraper akan membantu meningkatkan kemampuan indera perasa. Selama Anda mengalami ageusia, Anda bisa membersihkan lidah Anda setidaknya dua kali sehari.

Mencegah paparan infeksi Covid-19

ilustrasi mencuci tangan
Sumber gambar

Sudah beberapa tahun ini Anda dan semua orang diminta untuk menjalani protokol kesehatan guna melindungi diri dari paparan infeksi Covid-19. Dengan adanya subvarian baru, baik XBB dan XBC, ada baiknya untuk memperketat kembali protokol kesehatan yang telah dijalani. CDC menghimbau untuk mengikuti beberapa rekomendasi berikut:

  • Mendapatkan dosis vaksinasi dasar dan vaksinasi booster sesuai dengan jadwal yang tersedia di fasilitas kesehatan terdekat
  • Menghindari kontak dekat dengan siapapun yang menunjukkan gejala sakit, atau orang yang baru saja melakukan perjalanan ke luar negeri
  • Menghindari kerumunan terutama di tempat tertutup yang tidak memiliki ventilasi yang baik
  • Mencuci tangan dengan air dan sabun setidaknya 2- menit dengan gerakan yang benar, atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung 60% alkohol
  • Menggunakan masker saat berada di tempat publik atau di tengah kerumunan orang yang banyak
  • Menutupi mulut dan hidung dengan siku atau tisu ketika Anda batuk atau bersin dan segera mencuci tangan
  • Menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut tanpa mencuci tangan
  • Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu atau meja

BACA JUGA: Covid XBB Bisa Lolos Antigen, Ini Cara Atasinya

Yang terakhir, jika Anda mendapati gejala seperti yang telah disebutkan di atas, segera dapatkan tes RT-PCR untuk mengonfirmasi gejala Anda, hentikan semua aktivitas di luar rumah dan lakukan isolasi diri demi melindungi keluarga serta mencegah penularan pada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *