Kenali Gejala Covid Ringan hingga Berat agar Tak Salah Penanganan


Usia pandemi sudah menahun. Hal ini membuat gejala Covid silih berganti dan mulai bergeser dari berat hingga ringan. 

Akan tetapi, virus ini tetaplah baru. Ilmuwan dan medis masih tetap mengembangkan riset dan penelitian tentang kemungkinan mutasi virus. Hingga saat ini saja, perjalanan Corona sudah mencapai 10 jenis mutasi yang menjadi fokus para peneliti. 

New normal membuat kita akan berdampingan dengan virus ini dalam waktu yang cukup lama. Ada yang bisa kita atasi sendiri di rumah, tapi ada juga yang diam-diam menuntun pasien dalam kondisi kritis. Tapi kita tetap perlu mengenali ciri-cirinya, agar tidak terlambat dan salah dalam memberikan penanganan. 

Gejala Covid sebelum dan setelah vaksinasi

Perbedaan jenis mutasi pada dasarnya tidak banyak membedakan ciri dari kemunculan penyakit ini. Masih ada benang merah antara gejala Covid-19 satu dengan varian yang lainnya. Tapi, tidak selalu dengan tingkat keparahan. 

Seperti yang kita ketahui, pada gelombang pertama generasi Alpha, Beta dan Gamma, virus ini menyebabkan banyak RS di berbagai negara kolaps. Vaksin masih dalam proses riset dan penelitian. 

Sedangkan pada gelombang kedua, level keparahan ternyata lebih tinggi lagi. Hal ini karena munculnya varian Delta yang penularan dan keparahannya memang lebih tinggi. Pada fase ini vaksin sudah diberikan kepada beberapa kalangan prioritas, seperti nakes dan lansia. 

Di Indonesia sendiri, pada pertengahan 2021, berbagai fasilitas kesehatan kolaps dan tenaga kesehatan kewalahan. Sebagian pasien terpaksa bertahan di rumah atau bahkan halaman rumah sakit. Tabung oksigen pun jadi rebutan dan harganya bisa melesat tinggi. 

Meski sudah ada vaksin, namun pelaksanaannya belum menyeluruh. Sehingga gelombang kedua terasa lebih mengejutkan dari yang pertama. Menjelang akhir 2021, kasus Omicron mulai bermunculan, tapi target awal vaksinasi di Indonesia tercapai dan positivity rate menurun di berbagai daerah.

Gejala Covid ringan 

[Sumber gambar]
Corona memiliki gejala yang tidak selalu sama pada tiap individu. Akan tetapi, mayoritas mengalami gangguan saluran pernafasan atau pencernaan. Ada beberapa gejala yang tergolong ringan, sehingga pasien bisa melakukan isolasi mandiri. Beberapa gejala itu adalah: 

OTG (Orang tanpa gejala)

Kondisi yang paling ringan dalam Covid-19 adalah OTG. Artinya pasien tidak mengalami gangguan kesehatan apapun, tapi hasil swab PCRnya positif. Meski demikian, OTG tak bisa berinteraksi dengan bebas. Hal ini karena kondisinya bisa menularkan kepada orang lain serta orang yang lebih rendah imunitasnya. 

Anosmia

Salah satu gejala khas Covid-19 yang terdeteksi sejak awal kemunculan virus Corona. Yakni berupa kehilangan kemampuan pada indra perasa dan atau penciuman. Orang yang mengalami anosmia bisa mengalami dua hal yang berbera. Yakni tidak merasakan dan mencium aroma apapun, atau merasakan dan mencium namun rasa dan bau tersebut tidak sebagaimana mestinya. 

Walau jadi gejala khas, pada perjalanannya para ilmuwan dan dokter menyebutkan kalau pasien Covid-19 dengan anosmia relatif punya peluang kesembuhan tinggi. 

Batuk dan pilek

Pada dasarnya Corona memang menyerang saluran pernafasan. Namun gejala ringannya bisa berupa batuk dan pilek yang bisa berkurang dalam beberapa hari. Biasanya batuk (cenderung batuk kering) dan pilek juga memiliki gejala ikutan seperti nyeri otot atau pegal dan demam. 

Meski ini termasuk gejala yang ringan, tetapi progresnya bisa berbeda antara satu orang dengan lainnya. Misalnya, ada yang awalnya terasa batuk pilek biasa, namun kondisinya semakin drop dan gejala tidak mereda dalam 3 hari. 

Gejala Covid sedang 

[Sumber gambar]
Meski kategori sedang, tapi gejala ini tidak jarang menjadi ikutan dari gejala ringan, bahkan berat. Gejala sedang ini sering menjadi silent killer karena nampak masih seperti penyakit yang umum, tapi memiliki dualisme kemungkinan. Semakin baik atau semakin kritis. 

Sakit tenggorokan

Terjadi perubahan suara dan rasa kurang nyaman saat menelan. Ciri-cirinya mirip dengan sakit tenggorokan pada umumnya. Kondisi ini bisa menjadi lebih parah bila terjadi demam tinggi yang tidak reda dalam beberapa hari. Tubuh mulai lesu dan pasien mulai kesulitan bernafas. 

Mual dan muntah

Pasien mengalami penurunan nafsu makan, karena ada rasa mual. Tak jarang menyebabkan muntah dan juga bisa buang air besar dengan intense. Karena kondisi ini, pasien lebih rentan mengalami dehidrasi dan lemas. 

Gejala Covid berat

[Sumber gambar]

Halusinasi

Pasien dalam keadaan sadar, namun kelihatan bingung sehingga mulai bicara tidak teratur dan tanpa arah. Kondisi ini bisa terjadi pada sebagian pasien dalam kondisi demam.

Sesak nafas dan penurunan saturasi oksigen

Pasien merasa sesak nafas karena adanya penurunan saturasi oksigen di bawah 92%. Batas aman adalah 95%, apabila mulai kurang dari nilai tersebut sebaiknya segera ke rumah sakit. 

Penurunan kesadaran

Dengan kondisi bawaan seperti di atas, dapat menyebabkan pasien kehilangan kesadaran. Hilangnya kesadaran ini juga bisa terjadi meski beberapa waktu sebelumnya pasien terlihat tidak ada penurunan kondisi. Bila pasien adalah orang dengan komorbid, lebih baik segera menghubungi tenaga medis untuk penanganan yang tepat. 

Swab PCR untuk deteksi dini yang akurat

Sebagian orang ragu untuk melakukan PCR karena metode deteksi dan tracing ini awalnya memiliki harga tinggi. Namun kini swab tes sudah jauh lebih terjangkau. Metode tes PCR sangat baik untuk mencegah keterlambatan penanganan dan penyebaran virus lebih jauh. 

BACA JUGA: Jangan Sampai Lupa! Ini Ciri Ciri Corona yang Masih jadi Pedoman Medis

GSI Lab yang kini berlokasi di Jakarta, Tangerang, hingga Bali, punya beberapa program menarik yang memudahkan kita melakukan Swab Test. Di antaranya adalah program PCR gratis bagi warga kurang mampu, serta program donasi bagi Anda yang ingin ikut serta membantu Indonesia segera pulih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *