Kabar Chemtrail Omicron, Hoaks Virus Disebar oleh Pesawat


Melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia tak lepas dari munculnya teori seperti chemtrail Omicron. Sebuah teori bahwa virus ini sengaja disebar melalui udara sehingga banyak yang terpapar. 

Sebenarnya kabar seperti ini bukan pertama kali naik ke permukaan. Chemtrail atau jejak kimia yang nampak di udara sering dikaitkan dengan teori konspirasi. Bahwa kejadian tersebut sengaja untuk melancarkan misi tertentu, dalam hal ini adalah menyebarkan penyakit atau senjata kimia. Beberapa waktu lalu, ada kabar mengenai jejak asap pesawat di langit Jakarta yang semakin membuat publik menduga-duga. 

Bersamaan dengan kabar yang muncul di pertengahan Februari 2022 ini, banyak juga beredar dokumentasi yang meyakinkan di grup chat atau media sosial. Narasi semacam ini semakin membuat opini publik terbelah. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi banyak negara yang warganya masih memperdebatkan virus Covid-19 sejak pertama kemunculannya. 

Kebenarannya adalah bahwa BMKG telah mengklarifikasi jejak pesawat tersebut bukanlah senjata kimia seperti kabar miring yang beredar. Berikut ini penjelasannya.

Chemtrail Omicron menggunakan video kejadian lain atau dokumentasi lama

Hoaks Chemtrail Omicron dengan video lama
[Sumber gambar]
Ada banyak video atau foto pesawat yang orang mengkait-kaitkannya dengan kabar chemtrail yang beredar. Namun setelah melalui berbagai penelusuran, ternyata video tersebut merupakan dokumentasi dari kejadian lain. Seperti pesawat yang membawa tim Manchester City  gagal mendarat karena badai, sehingga pesawat tersebut mengeluarkan asap. 

Atau foto jejak pesawat berupa ekor asap di langit yang klaimnya adalah chemtrail atau chemical trail (jejak kimia) penyebar virus Omicron. Hal ini segera mendapat tanggapan dari BMKG yang memang tugasnya mengamati berbagai fenomena alam dan cuaca. 

Penjelasan BMKG terhadap video jejak pesawat di langit

Penjelasan BMKG soal video Pesawat Chemtrail Omicron
[Sumber gambar]
Kepala Sub Bidang Informasi Penerbangan BMKG, Ismanto Heri, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan contrail alias condensation trail. Sederhananya adalah jejak asap  kondensasi yang terbentuk sebagai hasil sampingan pesawat berupa uap air dan membentuk seperti awan. Hal ini juga bukan kondisi yang aneh, karena sudah umum di dunia penerbangan. 

Dengan bentuk yang memanjang dan seperti jejak atau jalan di langit, dapat memunculkan asumsi atau bahkan berkembang jadi narasi-narasi yang tidak semestinya bagi orang awam. Karena itulah contrail bisa menarik perhatian, bahkan menimbulkan isu-isu yang tidak semestinya. 

Mengapa teori Chemtrail Omicron tidak sesuai? 

Terkait dengan kabar yang beredar, tentu saja teori konspirasi chemtrail Omicron ini menjadi tidak sesuai. Dalam penjelasannya mengenai Contrail, Ismanto juga menjelaskan bagaimana proses pembentukannya dan bagaimana dalam sekejap partikel uap air ini akan menghilang. 

Contrail terjadi berupa uap panas yang bertemu dengan udara dingin di udara. Kemudian dengan suhu yang -50 derajat, membuatnya beku dan membentuk seperti awan. Tak berapa lama, partikel ini akan menghilang karena suhu di sekitarnya. Dengan proses perubahan suhu semacam ini, membuat ‘virus’ atau ‘zat kimia’ yang dimaksud tidak mungkin bertahan. 

Selain itu, apabila tersebar melalui udara, maka yang terpapar tidak secara acak, melainkan bisa mengenai lebih banyak orang dalam satu wilayah tertentu. Oleh karena itu meski kabar ini begitu gencar, banyak pihak berkompeten yang memberikan penjelasan bahwa berita tersebut hanya hoaks belaka. 

Cara menyikapi hoaks Chemtrail Omicron atau tentang virus lainnya

Menyikapi Hoaks Covid Omicron
[Sumber gambar]
Munculnya kabar-kabar seperti ini sebenarnya jadi salah satu hal yang menghambat pemulihan masyarakat. Pertama, hal ini menimbulkan keresahan dan kecemasan berlebih. Padahal banyak orang yang terpapar juga di antaranya memiliki penyakit bawaan yang membutuhkan konsentrasi ekstra untuk pulih. 

Kedua, kondisi ini membuat orang resisten pada langkah-langkah yang mestinya harus mereka lakukan. Seperti melakukan swab karena takut akan ‘dipositifkan’, tidak mau melakukan pengobatan karena yakin bisa sembuh sendiri dan juga menolak vaksinasi. Pada akhirnya, pihak yang rugi adalah mereka yang termakan kabar-kabar hoaks tersebut. Misalnya terpapar virus, terlambat mendapat penanganan atau bahkan ada anggota keluarga lain yang malah ikut terpapar. 

Oleh karena itu, dalam menyikapi kabar-kabar seperti ini, utamakan untuk segera mencari kebenarannya sebelum menelan mentah-mentah. Misalnya dengan mencari melalui media, Turn Back Hoax, Kominfo, atau akun resmi dari instansi yang berwenang. 

Hindari menyebarkan sesuatu sebelum kita sendiri mengetahui akurasi kabar tersebut. Karena di musim menjaga imunitas dan pikiran ini, kabar miring dapat menjadi efek domino yang dampaknya juga kurang baik bagi pemulihan masyarakat. 

Utamakan ketenangan dalam menanggapi kabar di tengah pandemi

Menanggapi beragam isu yang beredar saat sedang menjaga kesehatan dan imunitas memang tidak mudah. Saring informasi yang perlu dan tidak perlu kita dengarkan. Selanjutnya fokus dengan kesehatan kita dan orang-orang terdekat. Saling menyemangati dan tidak panik, membantu menyelesaikan separuh masalah. 

Bila perlu, sementara tinggalkan dulu media sosial dan forum-forum yang memicu perdebatan atau naiknya tensi kemarahan kita. Pilih media atau kegiatan yang mendukung kesembuhan atau ketenangan jiwa dan raga. Memang agak tricky dalam memilah emosi di tengah kehidupan sosial, karena itu prioritaskan kesehatan diri kita dan keluarga terdekat. 

BACA JUGA: Mitos Atau Fakta? Air dan Uap Panas Membunuh Virus Corona

Kesehatan bukan hanya tentang badan, tapi juga pikiran. Bahkan, dari pikiran kita lah mayoritas penentu kesehatan raga kita. Pilah pilih informasi yang akan kita konsumsi, agar senantiasa menjaga diri dari distraksi yang tidak menunjang imunitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *