Kenali Gejala Hilang Penciuman, Tak Perlu Panik


Hilang penciuman atau anosmia menjadi salah satu pengetahuan medis baru bagi masyarakat luas sejak pandemi Covid-19 di 2020 lalu. Tak hanya itu, sebagian di antaranya sudah pernah mengalaminya.

Hilang kemampuan penciuman dan perasa ini membuat kita tidak bisa membaui aroma atau merasakan makanan dan minuman. Beberapa di antaranya juga mengalami gangguan sensori penciuman sehingga apa yang mereka endus, malah tidak tercium sebagaimana mestinya.

Mengapa kita bisa mengalami hilang penciuman? Apakah anosmia selalu mengarah pada penyakit berisiko tinggi seperti Covid-19? Agar tidak mudah panik, mari kita dalami bahasan tentang si anosmia ini.

Hilang penciuman atau anosmia

Anosmia merupakan salah satu gejala khas dari Covid-19, di mana terjadi gangguan pada sistem pernafasan akibat virus menginfeksi sehingga terjadi hambatan pada indra penciuman. Akibatnya, meski bisa bernafas, pengidapnya tidak bisa mencium sesuatu dengan benar atau tidak bisa menghidu aroma sama sekali.

Misalnya bau bawang putih yang khas dan menyengat, tiba-tiba sama sekali tak tercium. Atau saat mencoba makan makanan tertentu, ternyata aromanya tidak sama atau menjadi tidak enak. Hal ini merupakan gangguan sensori penciuman dan perasa kita.

Sebenarnya, anosmia sendiri bukanlah penanda mutlak Covid-19, karena sebenarnya ada juga orang yang memiliki gangguan ini sejak lahir. Hilang penciuman bisa menjadi kondisi bawaan atau terjadi karena pemicu selain paparan virus Corona.

Penyebab hilang penciuman

penyebab hilang penciuman
Sumber gambar

Ada beberapa penyebab hilangnya kemampuan kita membau sesuatu selain virus Covid-19. Di antaranya adalah kondisi kelainan bawaan atau trauma pada kepala. Karena pada dasarnya kemampuan mencium aroma ini berhubungan dengan saraf dan kondisi sistem pernafasan dan pengecap kita.

Bila kita jabarkan, berikut ini adalah penyebab anosmia yang paling sering terjadi:

  • Obstruksi atau hambatan. Kondisi ini dapat terjadi ketika sistem pernapasan kita mengalami infeksi maupun peradangan. Bukan hanya pada Covid-19 saja, pada penyakit flu pun hal ini bisa terjadi. Misalnya membuat hidung mampet karena ada peradangan di jalur nafasnya.
  • Merupakan bawaan sejak lahir. Kondisi ini bisa terjadi karena ada sindrom Turner dan Kallman, sehingga ada kelainan pada jalur pernafasan. Hal ini bisa menyebabkan pengidapnya mengalami hilang penciuman permanen.
  • Lansia atau mereka yang mengalami kondisi neurodegeneratif. Umumnya yang mengalami kondisi ini memang mereka yang berusia lanjut, namun memang tak menutup kemungkinan pada mereka yang masih muda dan ada kondisi tertentu sehingga kemampuannya berkurang. Misalnya tengah berkutat dengan kondisi Parkinson, alzheimer atau Demensia.
  • Terjadi benturan atau trauma pada bagian kepala. Bila terjadi benturan yang mengenai wajah maupun kepala, ada kemungkinan dapat berpengaruh pada terjadinya anosmia. Karena berhubungan dengan saraf atau kerusakan pada area tersebut yang masih ada kaitannya dengan saluran nafas.
  • Melakukan pengobatan terapi radiasi, utamanya yang berhubungan dengan area leher atau kepala.

Gejala munculnya anosmia

Tidak banyak gejala yang mengawali kondisi kehilangan penciuman ini. Namun bisa jadi bersamaan dengan kondisi lainnya. Misalnya hilang penciuman ketika terkena Covid-19 yang gejalanya seperti flu, atau hidung buntu dan berair karena terjadi alergi. Kemudian hidung seperti tidak bisa mencium aroma apapun.

Sementara, berbeda bila kasusnya adalah polip. Sebab kondisi ini terjadi karena ada jaringan tumbuh pada jalur nafas hidung. Jaringan ini berasal dari peradangan sinus dan selaput lendir.

Sedangkan bagi orang yang memang memiliki kelainan sejak lahir, kebanyakan kurang menyadari kalau tidak memiliki kemampuan mencium aroma tertentu. Hal tersebut baru akan diketahui bila mencoba mengendus aroma tersebut bersamaan dengan orang lain yang normal kemampuannya.

Cara mengatasi hilang penciuman

ilustrasi cara mengobati hilang penciuman
Sumber gambar

Makanan dan minuman akan terasa lebih nikmat bila indra penciuman dan perasa kita normal. Bila mengalami anosmia, tetap tenang dan analisa dulu penyebabnya. Bila tidak terjadi karena benturan atau kondisi neurodegeneratif, maka kemungkinan ada peradangan di dalam.

Meski tidak harus ke rumah sakit, namun sebaiknya berkonsultasi dengan tim medis seperti dokter atau IGD, sehingga mendapatkan arahan yang tepat. Sementara itu, di rumah kita bisa melakukan beberapa cara untuk melatih hidung mendapatkan kemampuannya kembali.

Melatih hidung dengan bahan beraroma kuat

Pilih bahan yang aman seperti bahan makanan. Misalnya bawang putih, seledri, cokelat, kopi dan kantong teh. Atau bisa juga dengan terapi aroma menggunakan minyak kayu putih.

Selain mencium bahan makanan, kita juga dapat mengonsumsi beberapa bahan makanan yang beraroma tersebut untuk pemulihan sekaligus latihan. Misalnya sup bawang putih dengan seledri, atau mengonsumsi teh dengan tambahan aromatik seperti jahe.

Irigasi hidung

Merupakan teknik untuk membersihkan hidung. Selain dengan membeli bahan dan alat di apotik, kita juga bisa membuatnya sendiri dengan air garam. Teknik mengairi hidung seperti ini bisa membantu mengurangi infeksi dan peradangan serta mengembalikan kemampuan menghidu secara bertahap.

Mengonsumsi obat

Bila perlu, kita akan disarankan untuk mengonsumsi obat tertentu. Misalnya dekongestan, antihistamin atau obat antibiotik. Lakukan pengobatan secara rutin dan teratur agar bisa mempercepat penyembuhan.

Bila merasa gejala tidak banyak berkurang dalam waktu cukup lama, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk observasi lebih lanjut.Namun hilang penciuman sendiri bisa terjadi dalam waktu singkat maupun cukup lama.

Hilang penciuman bisa kita cegah, misalnya dengan senantiasa menggunakan masker dan mencuci tangan. Walau saat ini sudah boleh tidak melakukan protokol kesehatan, tapi sebenarnya kebiasaan baik ini bisa mencegah dari paparan infeksi dan peradangan.

BACA JUGA: TBC Adalah Penyakit Menular, Kenali Gejalanya

Selain itu, hindari membersihkan hidung dengan tangan yang kotor dan waspada di manapun berada agar tidak mengalami benturan. Intinya, dengan mencegah hal-hal yang dapat memicu anosmia, kita juga bisa menikmati bernafas dengan leluasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *