Antigen Swab Test Untuk Covid-19 Dengan Drive Thru Jakarta


 

Antigen swab test adalah tes diagnostik untuk memeriksa apakah seseorang terinfeksi Covid-19 dengan mencari antigen (protein) pada permukaan sampel dari hidung atau tenggorokan.

Hasil tes ini disebut juga tes cepat (rapid test), karena hasilnya bisa lebih cepat daripada tes PCR, sekitar 15-30 menit.

Biaya antigen swab test lebih murah atau terjangkau daripada tes PCR Covid-19. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (Food & Drug Administration-FDA) mengeluarkan izin penggunaan antigen swab test ini sejak bulan Desember 2020.

Indonesia telah menggunakan antigen swab test sebagai alat skrining Covid-19, sehingga setiap orang tidak perlu langsung melakukan tes PCR Covid-19 sejak awal.

Antigen Swab Test

Metode uji ini akan mengincari antigen yang merupakan bagian dari virus yang dapat memunculkan respons sistem imun tubuh dengan mengeluarkan antibodi.

Antigen SARS-CoV-2 dapat terdeteksi sebelum gejala COVID-19 muncul. Tetapi memang sensitivitasnya lebih rendah daripada tes PCR Covid-19.

Antigen yang terikat dari sampel swab pada hidung atau tenggorokan akan memberikan pembacaan secara visual.

Prosesnya cukup singkat kurang dari 30 menit.

Pasien tanpa gejala kemungkinan memiliki kadar antigen virus yang tidak mencukupi sehingga kadang tidak terdeteksi dalam pemeriksaan ini. Inilah kelemahannya.

Menurut WHO sensitivitas antigen swab test mencapai 80%.

Dan dapat dikatakan sangat sensitif ketika jumlah virus tinggi dan pasien sangat berisiko menularkan sehingga cocok sebagai pemeriksaan skrining masyarakat.

Metode ini dapat dengan cepat mengidentifikasi pasien tanpa gejala, sedangkan follow-up dengan tes PCR Covid-19 dapat membantu mengonfirmasi diagnosis.

Hasil Negatif Palsu

Para peneliti merekomendasikan antigen swab test untuk menskrining kasus-kasus fase akut, karena tingkat akurasinya yang baik.

Terutama untuk populasi yang berisiko.

Umumnya, cara kerja uji ini adalah dengan mendeteksi struktur asing atau yang tidak dikenali tubuh misalnya dari virus, yang dapat mencetuskan respons imun tubuh.

Ketika seseorang merasakan gejala Covid-19, paling lambat lima hari kemudian harus melakukan pemeriksaan antigen swab test untuk memberikan hasil yang lebih akurat.

Meski hasil positif menunjukkan keakuratan, berisiko juga menghasilkan positif palsu. Maksudnya, tes tersebut menyatakan seseorang terkena infeksi padahal sebenarnya tidak.

Selain itu, metode pemeriksaan ini memiliki risiko negatif palsu lebih tinggi. Artinya, mungkin tubuh seseorang terinfeksi virus, namun hasil tesnya negatif (tidak terinfeksi).

Tes antigen kemungkinan besar menghasilkan negatif palsu jika jumlah virus rendah. Itu sebabnya, perlu segera melakukan tes PCR Covid-19 untuk memeriksa lebih lanjut hasil negatif pada antigen swab test.

Boleh dikatakan, tes ini merupakan jalan tengah antara tes PCR Covid-19 dan rapid test antibodi.

Untuk melakukan uji ada tidaknya virus Corona dalam tubuh, pilih saja tempat yang strategis, yaitu GSI Lab.  Caranya mudah dengan daftar atau registrasi secara online.

Keunggulan Antigen Swab Test 

Tes ini memiliki keunggulan antara lain:

  • Mendeteksi komponen virus berupa antigen
  • Baik untuk mendeteksi kasus akut atau sebagai deteksi kasus secara dini
  • Tidak perlu waktu lama
  • Tidak memerlukan tempat atau laboratorium khusus untuk melakukannya

Jika hasil Anda positif, berarti terdapat virus yang terdeteksi dalam sampel Anda. Bila hal ini Anda alami, maka Anda perlu melakukan isolasi mandiri karena berisiko tinggi menyebarkan virus kepada orang lain.

Perlu Isolasi Mandiri

Isolasi mandiri berarti Anda harus tetap berada dalam kamar dan hindari kontak dengan orang lain termasuk yang tinggal bersama Anda.

Jika ada beberapa orang yang tinggal bersama Anda, berarti Anda perlu tetap tinggal dalam sebuah ruangan atau kamar dengan jendela yang harus bisa dibuka. Anda boleh meninggalkan rumah bila ada keperluan untuk menemui dokter.

Isolasi mandiri perlu Anda lakukan secara benar guna membantu memutus mata rantai penularan Covid-19. Apabila tidak benar, isolasi mandiri justru kemungkinan akan memunculkan klaster keluarga.

Jangan lupa konsumsi makanan bergizi, minum obat sesuai anjuran dokter, tidur cukup dan menggunakan masker saat ke luar kamar atau saat berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya. Namun sebaiknya usahakan tidak berbagi ruangan yang sama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *