Kenali Gejala Usus Buntu Sebelum Jadi Parah


Seringkali gejala usus buntu terasa seperti sakit perut, utamanya di sebelah kanan. Namun, sinyal tubuh ini bisa sering penderitanya abaikan, sehingga baru tertangani ketika sudah merasakan kondisi yang lebih parah, seperti demam, susah buang air dan juga muntah.

Penyakit yang menyerang apendiks atau bagian usus buntu ini memang sebenarnya tergolong penyakit yang banyak kita temui di masyarakat. Seringnya terkena pada mereka yang berusia 10-30 tahun. Sebab pada fase ini kebanyakan pola makan dan asupan makanannya memang belum termaintain dengan baik. Akhirnya menyebabkan adanya penyumbatan atau peradangan pada usus buntu.

Kondisi ini umumnya tertangani dengan tindakan operasi. Namun ada juga yang masih ringan sehingga bisa sembuh dengan obat saja. Mari kita mengenali, penyebab dan gejala yang mungkin timbul agar bisa mengatasi dengan sedini mungkin.

Kenapa ada gejala usus buntu?

ilustrasi adanya gejala usus buntu
Sumber gambar

Banyak yang mengatakan bahwa usus buntu tidak memiliki fungsi atau tak ada gunanya. Sedangkan kalau terjadi gangguan kesehatan, malah bikin repot. Sebenarnya, usus buntu belakangan ini mulai diketahui fungsinya. Salah satunya adalah sebagai pendukung sistem imunitas di mana dapat membantu sistem cerna kembali pulih setelah adanya gangguan. Selain itu juga mendorong pertumbuhan bakteri baik.

Namun demikian, hal yang membuat adanya gejala usus buntu ini seringkali terjadi karena faktor gaya hidup. Apalagi pola makan dan jenis makanan yang kita konsumsi pada usia kanak-kanak hingga dewasa awal seringkali seperti ‘menguji’ ketahanan imunitas organ pencernaan. Misalnya jajanan yang tidak sepenuhnya matang, makanan pedas, makanan instan seperti mie dan sejenisnya.

Penyebab munculnya penyakit radang apendiks

Dari penjelasan di atas, kita beralih dengan yang sifatnya lebih teknis. Apa sih akibatnya bila kita sering mengonsumsi makanan instan seperti mie yang kadang belum sepenuhnya matang, atau makanan pedas dan jajanan lainnya?

Dampaknya adalah kondisi di mana terjadi beberapa hal seperti berikut ini:

  • Membengkaknya jaringan dinding usus buntu, karena mungkin terdapat infeksi di saluran pencernaan
  • Adanya parasit yang masuk dan berkembang di sana sehingga menyumbat rongga usus buntu
  • Terjadi sembelit atau susah buang air besar. Bisa jadi akibat penumpukan feses dan hal ini malah menyumbat usus buntu.

Selain itu, kondisi yang menyebabkan terjadinya usus buntu bisa akibat dari adanya cedera pada bagian perut maupun pertumbuhan tumor. Oleh karena itu, perlu waspada bila terjadi nyeri yang berulang di sebelah kanan. Periksakan diri ke dokter bila sering mengalami hal tersebut.

Gejala usus buntu

ilustrasi usus buntu
Sumber gambar

Seperti kebanyakan penyakit yang berhubungan dengan organ pencernaan, gejala usus buntu bisa berhubungan dengan beragam keluhan yang kita kira adalah penyakit perut biasa. Namun sinyal yang berbeda bisa kita rasakan saat nyeri.

Salah satu cara mendeteksinya adalah dengan menekan perlahan area yang sering muncul sakit, kemudian lepaskan tiba-tiba. Nantinya bila terjadi nyeri yang kuat pada bagian tersebut, kemungkinan adalah di dalamnya terjadi peradangan. Selain itu, kita bisa merasakan sakitnya saat tubuh melakukan goncangan atau tekanan pada perut. Seperti bersin, batuk atau menarik nafas. Tetapi posisi nyeri ini bisa dibilang tergantung dari kondisi individu.

Selain itu, rincian gejala yang kemungkinan pasien rasakan adalah seperti di bawah ini:

  • Demam, tanda infeksi sudah menyerang. Pasien akan merasa menggigil
  • Kembung dan begah
  • Mual dan ada kalanya juga muntah
  • Sulit buang air dan buang gas
  • Keluhan diare
  • Nafsu makan menurun
  • Nyeri pada perut yang bisa muncul mendadak

Perlu segera ke dokter

Usus buntu atau peradangan pada apendiks ini sebenarnya memiliki berbagai kategori keparahan, bergantung pada kondisi penderita. Penyakit ini bukan yang bisa kita atasi sendiri seperti diare ringan, karena sifatnya adalah peradangan di dalam. Bila salah penanganan, bisa menyebabkan infeksinya makin parah dan risiko komplikasi.

Bahkan kondisi tersebut bisa makin parah karena peradangan membuat usus buntu pecah. Namun demikian, semakin cepat kita membawa ke dokter saat menemukan gejalanya, akan semakin mudah penanganannya.

Misalnya bisa teratasi hanya dengan menggunakan obat-obatan dan antibiotik. Sayangnya, cukup banyak juga pasien yang baru tertangani ketika sudah di level perlu melakukan operasi atau bahkan dalam kondisi komplikasi. Oleh karena itu, bila sudah merasakan ciri dan keluhan yang ada di atas, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan.

  • Mengatur asupan makanan sehari-hari, setidaknya ada serat dari sayur dan buah dan membatasi gula, garam, MSG atau saus berlebih.
  • Hindari makan dengan rasa ekstrem berlebihan seperti pedas atau asam
  • Hindari makan mie, kerupuk atau makanan instan lainnya setengah matang
  • Pastikan konsumsi makanan yang bersih dan cuci tangan sebelum makan
  • Konsumsi makanan dengan kandungan probiotik seperti yogurt atau madu
  • Penuhi kebutuhan air putih

Penanganan medis

ilustrasi pengobatan usus buntu
Sumber gambar

Meski umumnya masyarakat awam mengenal tindakan untuk menangani usus buntu adalah operasi, tetapi sebenarnya ada beberapa prosedur selain itu. Penjelasannya ada di bawah ini:

Menggunakan obat

Ternyata bila tergolong ke dalam peradangan appendix ringan, kemungkinan pasien bisa sembuh dengan pengobatan antibiotik. Meski demikian, kondisinya perlu melalui pemeriksaan yang akurat. Seperti yang sudah kita singgung di atas bahwa usus buntu bukan penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Baik itu menggunakan perbaikan pola makan atau herbal. Sebab sejatinya kondisi yang rusak adalah di bagian dalam, sehingga memerlukan diagnosa lebih dulu.

Operasi

Penanganan berikutnya adalah dengan operasi. Paling sering terjadi karena beberapa kasus membutuhkan pengangkatan usus buntu atau istilahnya adalah apendektomi. Prosedur ini bisa melalui laparoskopi atau laparotomi di mana keduanya membutuhkan bius total.

Pada laparoskopi merupakan operasi lubang kunci, sehingga sayatan kecil dibuat di perut untuk memasukkan alat bedah. Sedangkan laparotomi adalah bedah terbuka yang biasanya terjadi pada kasus usus buntu berat. Misalnya terjadi abses atau nanah atau bahkan infeksinya sudah keluar.

Meski terdengar rumit dan berat, tidak perlu khawatir. Kembalikan penanganan pada tenaga medis dan prosedurnya. Ikuti langkah dan anjurannya setelah operasi selesai agar pemulihan bisa maksimal.

BACA JUGA: Cegah Penyebab Infeksi Usus dengan 6 Hal Ini

Usus buntu memang bukan kondisi yang bisa kita remehkan. Mencegah tentunya akan lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, sebaiknya perhatikan pola makan dan asupan kita. Bila perlu, ajarkan pula anak untuk makan dengan lebih teratur dan mindful sejak dini. Sebab gejala usus buntu paling sering menyerang di rentang usia anak-anak hingga 30 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *