Jerat Anoreksia Nervosa, Obsesi Kurus sampai Takut Makan


Gangguan anoreksia nervosa menjadi fenomena psikologis dan body image yang salah dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini membuat penderitanya bahkan bisa bernasib di ujung tanduk, karena sangat kekurangan nutrisi.

Orang dengan gangguan anoreksia kerap ada yang mengaitkan dengan bulimia. Keduanya memang hampir memiliki kesamaan, sebagai jenis gangguan makan. Namun ada perbedaan yang mencolok dari tampilan fisik. Umumnya pengidap bulimia masih dalam berat badan normal, dengan ciri gangguan akan mengeluarkan kembali apa yang ia makan.

Sedangkan mereka yang mengalami anoreksia nervosa benar-benar memiliki obsesi akan tubuh yang kurus. Ketika tubuhnya sudah underweight atau memiliki berat badan di bawah normal sekalipun, ketika naik sedikit sudah membuat yang bersangkutan merasa gemuk. Pemikiran ini sangat berbahaya karena tubuhnya kekurangan nutrisi dan bisa mengalami gangguan sistem cerna yang parah.

Banyak orang, utamanya perempuan muda yang terancam mengalami permasalahan ini. Mari kita simak dengan baik seputar penjelasannya berikut.

Gejala Anoreksia nervosa berhubungan dengan body image dan self esteem

ilustrasi gejala anoreksia
Sumber gambar

Anoreksia adalah istilah yang sering kita dengar, tapi masih sering tertukar maknanya dengan bulimia. Mereka yang mengalami anoreksia bisa terlihat dari berat badan dan perawakan yang sangat underweight atau berat badan jauh di bawah normal. Hal ini karena keyakinan dan obsesi akan tubuh kurus dalam benak yang berlebihan.

Dengan pola pikir tersebut, individu yang bersangkutan menunjukkan gejala lewat perilaku makan mereka yang sangat jelas. Karena itu, kebanyakan gejalanya lebih ke arah sikap dan keseharian mereka seperti di bawah ini:

  • Porsi makan yang minimal tapi tergolong ekstrem. Ada kalanya mereka memilih untuk tidak makan.
  • Kurang minum karena pemikiran bahwa air juga bisa menambah berat badan.
  • Mengkritisi kenaikan berat badan mereka, selalu merasa gemuk atau merasa gelisah sekalipun itu jauh dari berat badan normal orang dewasa.
  • Bila perlu, ada konsumsi obat-obatan yang mereka gunakan dengan tujuan menekan nafsu makan atau sesegera mungkin mengeluarkan apa yang telah mereka cerna.
  • Berat badan jauh di bawah normal.
  • Sering melihat kaca atau mudah stres dengan penampilannya.
  • Mulai mengalami gangguan kesehatan seperti dehidrasi, malnutrisi serta aritmia.

Lebih dari itu, orang yang mengalami anoreksia nervosa memiliki keyakinan yang kuat bahwa mereka gemuk dan tidak peduli bahwa apa yang mereka lakukan untuk tetap kurus malah membahayakan dirinya.

Faktor penyebab obsesi pada tubuh kurus

ilustrasi penyebab anoreksia
Sumber gambar

Penyebab terjadinya anoreksia tidak pasti secara klinis laiknya penyakit biologis lainnya. Namun, ada juga yang mendapatkan kondisi ini dari faktor biologis atau genetika dan paling sering dari lingkungan. Lebih jelasnya akan kita paparkan di bawah ini:

Secara biologis, kemungkinan ada sifat atau gen bawaan yang membuat seseorang cukup sensitif, peka, terlalu perfeksionis atau kompulsif. Hal ini bisa menjadi pendukung terbentuknya pikiran yang obsesif, dalam hal ini adalah berkaitan dengan body image mereka. Gen ini bisa merupakan warisan dari keluarga atau perpaduan yang menghasilkan gen tertentu, dan semakin kuat karena pengaruh faktor lainnya.

Secara psikologis, hal ini masih berkaitan dengan kondisi biologis di atas. Di mana ada potensi pada orang-orang yang memiliki pola pikir obsesif kompulsif dan perfeksionis, untuk mempertahankan pola pikir dan perilakunya, meski sebenarnya yang mereka yakini keliru. Serta adanya dorongan ekstrem akibat faktor berikutnya yang juga cukup menentukan.

Faktor tersebut adalah secara lingkungan. Di mana lingkungan banyak membentuk dan mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Misalnya stereotip tentang tubuh langsing itu cantik, tren salah kaprah yang dicerna mentah-mentah tentang tubuh kurus (seperti tren thig gap dan sebagainya), adanya bullying atau faktor stres dan sebagainya.

Ketiga aspek tersebut yang paling berkaitan untuk menciptakan perilaku anoreksia. Karenanya, perlu kesadaran, kepekaan dan dukungan orang sekitar untuk membantu penderita, keluar dari lingkaran setan yang menjerat mereka.

Penanganan anoreksia nervosa

Karena termasuk sebagai gangguan yang bersifat psikologis, penanganan anoreksia dengan melalui metode psikoterapi atau berkombinasi dengan penanganan medis. Bila melibatkan obat-obatan, kemungkinan karena ada kaitan dengan kondisi tubuh yang mungkin terdampak akibat malnutrisi.

Psikoterapi untuk gangguan anoreksia meliputi terapi kognitif. Bisa juga melibatkan keluarga dan terapi kelompok untuk membantu pasien. Cara ini bisa menjadi lingkungan suportif sehingga pasien bisa memperbaiki pemahamannya sendiri terkait body image dan self esteem.

Sedangkan untuk penanganan medis, umumnya pasien akan menjalani perawatan di rumah sakit dan pemantauan. Hal ini bila pasien mengalami kondisi fisik yang kritis atau membahayakan. Seperti gangguan irama jantung, atau masalah pada organ pencernaan yang menjadi pasif akibat menekan aktivitas makan yang berlebihan.

Setelahnya, gangguan ini tidak akan sembuh secara total. Masih ada kemungkinan ‘sisa’ atau kecenderungan tersebut muncul, utamanya dalam kondisi yang membuat pasien merasa down atau kehilangan kepercayaan dengan sekitar maupun dirinya sendiri. Karena itu, psikoterapi ini kemungkinan perlu tetap pasien jalani atau setidaknya berkonsultasi dengan psikolog secara rutin.

Bahaya gangguan makan ini bila tidak tertangani

ilustrasi bahaya gangguan makan
Sumber gambar

Sebagai gangguan makan, anoreksia mungkin terkesan tidak berbahaya. Namun sebaliknya, kondisi ini sangat membahayakan lebih-lebih bila sudah mencapai tahap underweight atau berat badan di bawah normal. Sebab akibatnya bisa bermacam-macam, termasuk mengancam nyawa. Berikut ini dampak yang terjadi akibat anoreksia nervosa:

  • Mengalami stres dan depresi karena tidak pernah puas dengan citra tubuhnya
  • Mengalami permasalahan organ tubuh bagian pencernaan karena pasif mencerna makanan.
  • Berat badan jauh di bawah normal
  • Mengalami dehidrasi atau ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu berbagai sistem tubuh termasuk fungsi otak.
  • Mengalami permasalahan jantung.
  • Risiko kematian mendadak.

Pencegahan

Orang dengan gangguan yang berhubungan dengan mental dan perilaku, sangat membutuhkan bantuan meski kelihatan seperti baik-baik saja di awalnya. Yang paling bisa menolong adalah lingkungan terdekat, seperti keluarga, pasangan, atau sahabat. Selain itu, tentunya dengan bantuan psikolog atau psikiater bila dukungan sekitar tidak berhasil.

Tindakan pencegahan yang paling bisa kita lakukan adalah memahami konsep body image dan self esteem yang benar. Edukasi seperti ini penting sejak masih kecil hingga pada usia kritis menjelang 20 tahunan. Sebab selama 20 tahun pertama kehidupan inilah banyak nilai moral terbentuk, baik dari keluarga, sekolah maupun pergaulan.

BACA JUGA: 7 Cara Menambah Berat Badan, Jangan Asal Makan

Demikianlah pembahasan mengenai anoreksia nervosa yang harapannya bisa membantu mereka yang tengah krisis percaya diri dengan penampilan dan diri mereka, serta orang orang yang sedang membersamai pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *