
Di era modern ini, kesehatan tidak lagi hanya bergantung pada gejala yang terlihat. Dunia medis saat ini bergerak menuju pendekatan lebih dalam, yaitu memahami apa yang terjadi pada tingkat genetik dan genomik individu. Pendekatan ini dikenal sebagai kedokteran presisi (precision medicine), dan kini mulai menjadi bagian penting dari transformasi sistem kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Genomik Menjadi Prioritas Global Bidang Kesehatan
Sebagai negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, Indonesia memiliki keragaman genetik yang sangat tinggi. Diperkuat dengan amalgamasi dan arus globalisasi, keadaan tersebut juga menghasilkan lanskap genetik populasi yang unik di Indonesia. Kondisi ini tentunya menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi layanan kesehatan di Indonesia.
Pendekatan medis konvensional pada umumnya masih berfokus pada pendekatan one for all, yaitu menggunakan metode sama untuk semua pasien. Sayangnya, pendekatan tersebut sering kali kurang efektif dan efisien dalam memberikan hasil optimal bagi sebagian pasien.
Namun, genomik menyediakan pendekatan lebih spesifik berdasarkan profil genetik. Hal ini memungkinkan kita untuk memahami bagaimana karakteristik bawaan genetik dan dampaknya memengaruhi respon tubuh terhadap penyakit dan terapi di setiap individu.
Dengan pendekatan genomik, sistem kesehatan dapat mendeteksi risiko penyakit sejak dini, memberikan pengobatan lebih tepat, dan mengurangi trial-and-error dalam terapi. Inilah dasar munculnya konsep kedokteran presisi yang kini mulai diadopsi secara global.
Dari Kolaborasi Bilateral ke Inisiatif Strategis Indonesia
Salah satu kontribusi pengembangan program genomik di Indonesia adalah kolaborasi internasional antara CSIRO Australia dan Genomik Solidaritas Indonesia (GSI). Kolaborasi ini awalnya berbentuk hibah bilateral, yang kemudian berkembang menjadi inisiatif yang jauh lebih besar. Hal tersebut direalisasikan dengan kerjasama pembangunan sebuah sistem teknologi bioinformatika dan wadah riset tepercaya, bersama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Teknologi yang awalnya dikembangkan CSIRO tersebut diadaptasi untuk mendukung program nasional genomik, serta meningkatkan kapabilitas dan kapasitas riset yang menjunjung kedaulatan data (data sovereignty) di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sistem ini dibangun dengan pendekatan berbasis standar global–Beacon dari Global Alliance for Genomics and Health (GA4GH)–sehingga memungkinkan sistem untuk juga terhubung dengan inisiatif internasional serupa seperti UK Biobank.
Baca juga: Growing a bi-lateral grant into a nation-building international initiative
Kolaborasi Lintas Sektoral
Salah satu kekuatan utama ekosistem genomik Indonesia adalah kolaborasi lintas sektor. Selain CSIRO, GSI juga bekerjasama dengan Xapiens Teknologi Indonesia (XTI) sebagai konsorsium GXC. Kedua entitas berbasis di indonesia tersebut menjadi bagian penting dalam mengadaptasi dan mengimplementasikan sistem agar tepat guna dengan lanskap pelayanan dan riset kesehatan di Indonesia.
Keduanya merupakan 100 persen anak perusahaan Indika Energy Group. GSI memiliki keahlian dalam bidang genomik dan telah memberikan dukungan jangka panjang terhadap Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Di samping GSI, XTI memiliki keahlian dan berperan dalam penyediaan solusi teknologi dan integrasi sistem.
Visi GSI sendiri adalah membawa inspirasi dan inovasi dalam genomik, dan hal tersebut menjadi landasan dalam membangun ekosistem kesehatan berbasis data. Oleh karena itu, kolaborasi dengan XTI dan CSIRO merefleksikan wujud nyata implementasi visi GSI untuk mendorong dan memastikan bahwa pengembangan genomik tidak seharusnya berhenti hanya pada penelitian, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam pelayanan kesehatan Indonesia.
Implementasi Nyata di Rumah Sakit Nasional
Salah satu perkembangan penting genomik Indonesia adalah mulai diterapkannya sistem pelayanan dan riset berbasis genomik di bawah naungan Biomedical and Genomic Science Initiative (BGSi), dan beberapa rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Di antara rumah sakit tersebut, terdapat lima rumah sakit yang menjadi bagian dari implementasi awal sistem bioinformatika dan wadah riset tepercaya yang telah dibangun. Adapun kelima rumah sakit terdiri dari, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), RSUP Dr. Sardjito, RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono (RSPON), RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah (RSUP Sanglah), serta RS Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita (RSJPD HK).
Langkah tersebut menunjukkan komitmen untuk mendorong implementasi genomik sebagai bagian layanan kesehatan yang dapat dirasakan langsung oleh pasien. Ketika sistem ini berjalan optimal, pasien tidak hanya mendapatkan diagnosis berdasarkan gejala, tetapi juga berdasarkan informasi genetiknya yang lebih presisi.
Masa Depan Genomik Indonesia
Melihat perkembangan yang ada, arah pemanfaatan genomik akan berperan penting dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia–tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi berpotensi menjadi bagian inti dari sistem itu sendiri. Sejalan dengan itu, integrasi dengan sistem digital kesehatan nasional, peningkatan kapasitas laboratorium, serta pengembangan talenta di bidang genomik akan menjadi faktor penentu keberhasilan ke depan.
Dengan dukungan kolaborasi internasional, pemerintah, dan sektor swasta, Indonesia akan memiliki andil penting dalam bidang genomik global sejalan dengan lanskap unik genetik populasinya. Perjalanan ini tentunya masih berada di tahap awal. Namun, fondasi yang dibangun saat ini akan menentukan sejauh mana sistem kesehatan Indonesia dapat bertransformasi di masa depan.