
Ketika mendengar istilah kelainan kromosom, banyak orang langsung mengaitkannya dengan Down Syndrome. Padahal, kelainan kromosom sebenarnya mencakup berbagai kondisi genetik yang dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, hingga kesehatan seseorang sejak dalam kandungan.
Kromosom sendiri adalah struktur kecil di dalam sel tubuh yang membawa informasi genetik atau DNA. Informasi inilah yang menentukan banyak hal dalam tubuh manusia, mulai dari jenis kelamin, warna mata, hingga proses pertumbuhan organ. Normalnya, manusia memiliki total 46 kromosom atau 23 pasang, yang setengah berasal dari ibu dan setengah berasal dari ayah.
Kelainan kromosom adalah kondisi ketika terdapat perubahan pada jumlah atau struktur kromosom seseorang. Sebagian besar kelainan kromosom terjadi secara spontan dan bukan dibawa dari orangtua. Kondisi ini biasanya muncul saat pembelahan sel gamet (sel sperma atau telur) atau pada tahap awal perkembangan embrio.
Baca juga: Waspada! Deteksi Penyakit Genetik ini Dengan NIPT
Jenis Kelainan Kromosom yang Paling Dikenal
- Sindrom Down (Trisomi 21) Sindrom Down adalah kelainan kromosom yang paling sering dikenal masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika seseorang memiliki ekstra satu kromosom nomor 21 yang disebut trisomi 21. Anak dengan Sindrom Down biasanya memiliki karakteristik tertentu seperti wajah khas Mongoloid, tonus otot lebih lemah, keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar (intelektual disabilitas), hingga kelainan organ seperti jantung. Angka kejadian Down Syndrome sekitar 1:600 kelahiran dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia ibu.
- Sindrom Edwards (Trisomi 18) Sindrom Edwards terjadi ketika terdapat tambahan kromosom nomor 18. Kondisi ini juga termasuk kelainan kromosom serius. Gejala Trisomi 18 meliputi berat badan lahir rendah, kepala kecil berbentuk tidak normal, dan cacat lahir pada organ yang sering mengancam nyawa. Sebagian besar kasus membutuhkan penanganan medis intensif sejak awal kehidupan.
- Sindrom Patau (Trisomi 13) Sindrom Patau terjadi akibat tambahan kromosom nomor 13. Kondisi ini lebih jarang dibanding Sindrom Down, tetapi biasanya menyebabkan gangguan yang lebih berat. Sindrom Patau menyebabkan cacat intelektual yang parah dan cacat fisik. Sebagian besar bayi dengan kondisi ini tidak bertahan hidup melewati minggu pertama kehidupan mereka. Bayi dengan Sindrom Patau sering mengalami komplikasi medis serius sejak lahir.
Baca juga: Cara Aman Berhubungan Intim Saat Hamil
Sindrom dan Kelainan Kromosom Lainnya
Selain Sindrom Down (T21), Sindrom Edwards (T18), dan Sindrom Patau (T13), terdapat beberapa kelainan kromosom lain yang cukup sering terjadi, yaitu pada kromosom seks (X dan Y). Beberapa kelainan kromosom tersebut adalah sebagai berikut:
- Turner Sindrom atau Monosomi X adalah kelainan genetik yang terjadi pada perempuan yang dilahirkan dengan hanya satu kromosom X (perempuan normal memiliki kromosom seks XX). Gejala termasuk perawakan pendek, pubertas terlambat, infertilitas, kelainan jantung, dan kesulitan belajar.
- Sindrom XXX atau Triple X Syndrome adalah kelainan genetik yang terjadi pada perempuan dengan ekstra kromosom X. Ekstra kromosom X biasanya disebabkan oleh malformasi sel telur atau sperma atau pembelahan sel di awal perkembangan embrio. Sebagian besar wanita tidak bergejala atau hanya memiliki sedikit gejala seperti kesulitan belajar dan keterlambatan perkembangan.
- Sindrom XXY atau Sindrom Klinefelter adalah kelainan genetik yang terjadi pada laki-laki yang dilahirkan dengan ekstra kromosom X. Sindrom Klinefelter tidak herediter/diturunkan, melainkan terjadi sebagai akibat mutasi spontan setelah pembuahan. Laki-laki yang lahir dengan Sindrom Klinefelter mungkin memiliki testosteron rendah dan massa otot berkurang, serta sedikit rambut wajah dan rambut tubuh. Kebanyakan pria dengan kondisi ini menghasilkan sedikit atau tidak ada sperma sama sekali sehingga memiliki gangguan infertilitas.
- Sindrom XYY atau Sindrom Jacob’s adalah kondisi genetik yang terjadi pada pria yang memiliki ekstra kromosom Y. Gejala termasuk tinggi badan jauh lebih tinggi dari rata-rata, sering berjerawat, peningkatan risiko kesulitan belajar, dan perilaku lebih impulsif.
Terdapat juga kelainan-kelainan struktur kromosom seperti delesi dan duplikasi. Sebagian dari bagian kromosom, bisa besar maupun kecil, mengalami kehilangan (delesi) atau bertambah (duplikasi). Kelainan-kelainan ini lebih jarang ditemukan.
Faktor Risiko Kelainan Kromosom
Meskipun kelainan kromosom dapat terjadi pada siapa saja, ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risikonya:
1. Usia Ibu saat Hamil di Atas 35 Tahun
Salah satu faktor risiko yang paling diketahui adalah usia ibu saat kehamilan. Semakin bertambah usia ibu, kualitas dan jumlah sel telur secara alami akan menurun. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pembelahan kromosom pada janin.
Karena itu, beberapa kondisi seperti Sindrom Down (Trisomi 21) lebih sering ditemukan pada kehamilan dengan usia ibu yang lebih tua. Meski demikian, penting dipahami bahwa kelainan kromosom tetap dapat terjadi pada ibu usia muda, sehingga pemeriksaan kehamilan rutin dan skrining NIPT (Non-invasive prenatal testing) tetap penting dilakukan pada semua usia.
2. Riwayat Keluarga dengan Kelainan Kromosom
Riwayat keluarga juga dapat berperan pada beberapa kasus tertentu. Jika dalam keluarga terdapat anggota dengan kelainan kromosom atau gangguan genetik tertentu, risiko kondisi serupa pada keturunan berikutnya dapat meningkat.
Dalam situasi seperti ini, dokter biasanya menyarankan konseling genomika atau pemeriksaan lain untuk membantu memahami tingkat risiko sebelum maupun selama kehamilan untuk perencanaan kehamilan yang lebih matang.
3. Keguguran Berulang atau Masalah Kesuburan
Kelainan kromosom terkadang baru diketahui setelah pasangan mengalami keguguran berulang atau kesulitan memiliki keturunan. Pada sebagian kasus, perubahan kromosom pada embrio dapat menyebabkan kehamilan tidak berkembang dengan baik sehingga dapat berakhir dengan keguguran. Karena itu, pasangan dengan riwayat keguguran dua kali atau lebih biasanya dianjurkan menjalani evaluasi lebih lanjut, termasuk pemeriksaan genetik bila diperlukan.
4. Gaya Hidup Tidak Sehat dan Stres Berat
Gaya hidup sehari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, pola makan yang buruk, obesitas, hingga stres berat dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas sel telur dan sperma. Walaupun tidak selalu menjadi penyebab langsung kelainan kromosom, faktor-faktor ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada kehamilan.
Meski tidak semua kelainan kromosom dapat dicegah, pemeriksaan kehamilan dan skrining genomika modern seperti NIPT membantu mendeteksi risiko lebih dini sehingga keluarga dapat memperoleh informasi dan dukungan medis yang tepat.
⚠️ Disclaimer Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.
- Kelainan Kromosom: Jenis dan Faktor Risiko yang Perlu Dipahami - June 29, 2026
- Menjaga Kesehatan Saat Trimester Pertama - June 9, 2026
- Trimester Pertama: Masa Penting Penentu Awal Kehidupan Janin - June 6, 2026