
Virus Ebola kembali menjadi sorotan global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat internasional pada Mei 2026. Wabah kali ini disebabkan virus Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin atau terapi spesifik yang disetujui, sehingga kewaspadaan dan respons cepat menjadi sangat penting.
Apa Itu Virus Ebola?
Virus Ebola adalah penyebab penyakit Ebola, yaitu penyakit infeksi berat yang termasuk dalam kelompok virus demam berdarah. Ebola disebabkan oleh virus dalam genus Orthoebolavirus dari keluarga Filoviridae. Ada beberapa jenis virus dalam kelompok ini, yaitu virus Ebola, virus Sudan, dan virus Bundibugyo.
Penyakit ini pertama kali dikenal pada 1976 melalui dua wabah simultan di wilayah yang kini dikenal sebagai Sudan Selatan dan Republik Demokratik Kongo. Nama Ebola sendiri berasal dari Sungai Ebola yang berada dekat lokasi salah satu wabah awal tersebut.
Gejala Virus Ebola yang Perlu Dikenali
Gejala virus Ebola biasanya tidak langsung muncul setelah seseorang terpapar. Masa inkubasi, yaitu waktu dari infeksi hingga muncul gejala, berkisar antara 2 hingga 21 hari. Gejala paling sering mulai muncul sekitar 8 hingga 10 hari setelah infeksi.
- Fase Awal: Gejala Ebola dapat menyerupai penyakit infeksi lain, seperti demam, rasa lelah, tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.
- Fase Lanjutan: Setelah beberapa hari, gejala dapat berkembang menjadi lebih berat, meliputi muntah, diare, nyeri perut, ruam, serta tanda gangguan fungsi hati dan ginjal.
- Tahap Lanjut: Perdarahan dapat terjadi, misalnya darah pada muntah atau feses, perdarahan dari hidung, gusi, atau area bekas suntikan.
Baca juga: Virus Hanta
Cara Penularan Virus Ebola
Ebola tidak menyebar melalui udara seperti influenza atau COVID-19. Penularan terjadi terutama melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang sedang sakit atau telah meninggal karena Ebola. Biasanya, dapat melalui kontak langsung melalui kulit yang terluka atau membran mukosa dengan darah atau cairan tubuh orang yang sakit atau meninggal akibat Ebola. Cairan tubuh yang dapat menularkan virus mencakup darah, muntah, feses, urine, air liur, dan cairan tubuh lainnya.
Selain penularan antar manusia, Ebola juga dapat masuk ke populasi manusia melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi. WHO menyebutkan bahwa kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae diduga sebagai inang alami, dan penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan darah, organ, sekresi, atau cairan tubuh hewan terinfeksi seperti kelelawar buah, simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, atau landak yang ditemukan sakit atau mati.
Pencegahan Virus Ebola
Pencegahan Ebola berfokus pada menghindari kontak langsung dengan sumber infeksi. Pengendalian wabah bergantung pada kombinasi intervensi, termasuk perawatan pasien, pencegahan dan pengendalian infeksi, surveilans, pelacakan kontak, layanan laboratorium, pemakaman aman, serta mobilisasi sosial.
- Bagi Masyarakat Umum: Langkah pencegahan yang paling penting adalah menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang sakit, menghindari kontak dengan jenazah pasien Ebola, menjaga kebersihan tangan, dan tidak menyentuh hewan liar yang berpotensi terinfeksi.
- Bagi Para Pelancong ke Wilayah Berisiko: Disarankan untuk menghindari daerah wabah, menghindari kontak dengan pasien Ebola atau benda terkontaminasi cairan tubuh, tidak berinteraksi dengan hewan liar seperti kelelawar buah, monyet, atau kera, menjaga kebersihan tangan, dan mempraktikkan seks aman.
Baca juga: Cara mencegah infeksi virus Hanta
Apakah Ada Vaksin Ebola?
Vaksin tersedia untuk jenis Ebola tertentu, tetapi tidak untuk semua jenis virus penyebab Ebola. Untuk virus Ebola dua vaksin telah disetujui, yaitu Ervebo serta kombinasi Zabdeno dan Mvabea. Namun, pada virus Bundibugyo yang sedang terjadi wabah, belum ada vaksin yang sudah disetujui untuk digunakan.
Segera hubungi tenaga kesehatan jika Anda mengalami demam atau gejala seperti lemas, nyeri otot, muntah, diare, atau nyeri perut dalam 21 hari setelah bepergian dari wilayah yang memiliki kasus Ebola, atau setelah kontak dengan orang yang dicurigai atau terkonfirmasi Ebola. Masa inkubasi Ebola adalah 2–21 hari, sehingga periode 21 hari menjadi batas pemantauan yang penting.
References
⚠️ Disclaimer Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.
- Virus Ebola: Gejala, Penularan, dan Kapan Harus Waspada - May 21, 2026